_________________________________________________________________________________
Kita mulai topik ke-6. Tentang gerhana yang dapat diprediksi dengan tepat oleh NASA. Kita sejak kecil diajarkan, bahwa gerhana Bulan terjadi karena Bulan masuk kedalam bayang-bayang Bumi bola. Suatu hal yang tak mungkin terjadi jika Buminya datar. Gerhana bahkan dapat diprediksi sangat akurat oleh NASA, bahkan hingga ke hitungan jam dan menit kapan terjadinya. Tentu Anda berasumsi bahwa NASA menghitung orbit Bulan dan orbit Bumi mengelilingi Matahari, betul? Jelas salah! Salah besar!
Mari kita buktikan. Mari kita cek situs NASA kita cek bagaimana mereka memprediksi semuanya. Lihat, NASA dapat memprediksi gerhana secara tepat menggunakan siklus Saros, apakah itu? Siklus saros adalah siklus yang dibuat oleh bangsa Babilonia kuno ( sekarang Irak ) ribuan tahun yang lalu. Astronom Babilonia kuno mengamati bahwa gerhana adalah peristiwa rutin, sama seperti erjadinya siang dan malam. Mereka dari gerhana yang satu ke gerhana yang lain sehingga menemukan siklusnya yang disebit siklus saros. Menurut astronom Babilonia kuno itu, gerhana terjadi setiap 18 tahun 11 bulan dan 8 jam. Siklus ini juga berlaku untuk gerhana Matahari. Berdasarkan kalender saros itu, NASA mampu menghitung gerhana sampai 150 tahun dari tahun 1901 - 2045. Lalu NASA memebuat animasi gerhana, seolah-olah itu diprediksi dengan menghitung pergerakan Bumi dan Bulan mengelilingi Matahari. Padahal sebenarnya mereka menggunakan siklus saros bangsa Bacilonia yang tak ada hubungannya dengan bentuk Bumi. Mau buninya kotak, segita tetap saja gerhana Bulan terjadi dan kalendernya seperti itu.Bangsa Babilonia dapat memebuat kalender yang begitu akurat itu dengan menggunakan asumsi Matahari mengelilingi Bumi alias geosentrik. Pertanyaan yang paling penting adalah, Mengapa Nasa yang memiliki budget 256 trilliun/tahun, mampu menggaji professor-professor dan Doktor-Doktor manapun di Dunia yang sangat pandai Astronomi, Biologi, Matematika dan Animasi komputer tidak menghitung gerhana dengan asumsi Bumi mengelilingi Matahari melainkan menggunakan siklus saros? Kita akan jawab ini nanti karena ini disebabkan asumsi dasarnya.
_________________________________________________________________________________

Dikatakan, bahwa jarak Bulan ke Bumi adalah 384,400 KM. Anda pasti berfikir bahwa itu pasti dihitung oleh Sains modern. Padahal jarak Bumi dan Bulan dihitung oleh ilmuan Yunani kuno, yaitu Aristarchus of Samos 2,300 tahun yang lalu.
Aristarchus menghitung jarak Bulan menggunakan rumus Trigonometri pada saat Gerhana Bulan, dengan asumsi bahwa Bulan masuk ke dalam bayang-bayang Bumi. Jadi ini cerita lama. Seperti yang telah disampaikan diepisode yang lalu, teori Bumi mengelilingi Matahari sudah ada sejak 2.300 tahun yg lalu. Aristarchus bahkan menghitung jarak Bulan dengan asumsi tersebut. Maka didapatlah angka 240.000 Mill atau 384.400 KM.
Apakah ini fakta? Tentu saja bukan. Ini adalah perhitungan Trigonometri dengan asumsi Bulan masuk ke dalam bayang-bayang Bumi. Gampangnya seperti ini, Anda menghitung seekor tikus,dengan mengasumsikan ekor tikus sebagai tikus. Menjadi masalah apabila yang dihitung adalah ekor gajah, tubuh tikus akan menjadi sebesar gajah.
Dengan asumsi yang sama, Aristarchus menghitung jarak bulan dengan asumsi yang sama. Aristarchus kemudian menghitung jarak Bulan lewat fenomena gerhana. Didapatlah angka 1/3 Bumi atau 3,6 kali Bumi, yaitu 3.474 KM.
Setelah mendapat jarak Bulan, ilmuan 2.300 tahun yang lalu itu mengukur jarak Matahari, didapatlah angka 149,6 juta KM dari Bumi. Masalahnya, angka itu lebih besar 400x dari jarak Bulan ke Bumi, padahal kita selalu melihat Bulan dan Matahari besarnya hamir sama yang menyebabkan terjadi Gerhana Matahri Total. Maka dibuatlah asumsi baru, Matahari dan Bulan kelihatan besarnya sama, padahal jaraknya, menurut hitungan Aristarchus tadi jaraknya 400x lebih jauh. Karena Matahari besarnya 400x lebih besar dari Bulan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa Matahari besarnya 109x dari pada Bumi. begitulah rumus matematika asumsi diatas kertas. Hitungan Matematikanya sih sudah benar, karena matematika adalah ilmu yang pasti. Asumsi awalnya lah yang salah besar.
Maka dibuatlah dogma baru bahwa Matahari itu besar sekali, 400x besar Bumi. Namun secara ajaib jaraknya 400x lebih jauh dari Bulan. Jadi besarnya terlihat sama. Panca indera dan logika kita dikalahkan oleh asumsi rumus.
Darimana Aristarchus 2.300 tahun lalu bisa memastikan bahwa Gerhana Bulan terjadi karena bayang-bayang Bumi? Sampai sekarang pun, kalau benar Gerhana Bulan terjadi karena masuk bayang-bayang Bumi, mengapa NASA masih menggunakan kalender Saros untunk menghitung gerhana? Mengapa NASA tidak menghitung sendiri dengan asumsi Bumi mengelilingi Matahari?!
Jawabannya sederhana, karena memang semua hitungan itu salah semua! Gerhana tidak mungkin bisa diprediksi jika menggunakan angka-angka tersebut.
_________________________________________________________________________________
![]() |
| MATAHARI DIBAWAH AWAN |
![]() |
| SINAR MATAHARI MELEBAR |
Karton yang sama dengan sumber cahaya yang dekat, lampu misalnya, bahwa sinarnyamelebar. Fenomena dari awan tersebut membuktikan bahwa sinar Matahari bersifat dekat dan lokal.
![]() |
| CONTOH TRIGONOMETRI |
![]() |
| TRIANGULATION |
Matahari dan Bulan begitu dekat, dari jarak itu kita bisa hitung diameter Mathari yaitu 32 mill atau 50km. Begitu pula diameter Bulan, yang besarnya hampir sama. Matahari dan Bulan tak sebesar apa yang dipropagandakan selama ini. Semua orang bisa mengukur jarak dan diameter Matahari tanpa menunggu gerhana sperti yang dilakukan Aristarchus of Samos 2.300 tahun yang lalu. Buat apa mengitung trigonometri dengan asumsi bayangan yang ada di Bulan? Kita semua bisa menghitung trigonometri dengan bayangan yang ada di Bumi.
_________________________________________________________________________________
Permasalahan pada angka-angka Sains modern ada pada asumsi dasarnya, bahwa sinar Bulan adalah pantulan sinar Matahari, dan gerhana terjadi karena Bulan masuk bayang-bayang Bumi. Itu hanya teori, bukan fakta. Bulan punya cahaya sendiri yang sifatnya beda dengan sinar Matahari. Faktanya, efek sinar Bulan terhada hewan dan tumbuhan berbeda dengan efek sinar Matahari. Sinar Matahari panas, sinar Bulan justru dingin, Matahri dan Bulan adalah simbol keseimbangan alam yaitu Yin dan Yang.
Seiring dengan berkembangnya kesadaran Flat Earth, orang mulai mengukur temperatur suhu sinar Bulan. Caranya mudah, cukuo menggunakan 2 termometer. Yang satu diletakan dibawah sinar bulan dan satu lainnya diletakkan didekatnya namun tak terkena sinar Bulan. Hasilnya sangat jelas, bidang yang terkena sinar Bulan temperaturnya lebih dingin dari yang tidak terkena sinar Bulan. Ini tidak mungkin terjadi jika sinar bulan yang dingin adalah pantulan sinar matahari yang panas.
![]() |
| Bulan dipagi hari |
Sinar Bulan bukanlah pantulan dari Sinar Matahari, maka gerhana bukan disebabkan kaena Bulan masuk bayang--bayang Bumi oleh sebabiturumus trigonometri jarak dan diameter Bulan, Runtuh! Konsekuensinya, jarak MAtahari menjadi slaah pula, akibatnya seluruh perhitungan alam semesta jadi slah semua! Dan seluruh cosmology Sains Modern jadi runtuh!
Video pakar Sainstifik mencoba menghitung gerhana dnegan angka fiktif itu
Maaf tidak tersedia subtitle. Kalo tahu artinya pasti ketawa tuh.
![]() |
| Elitte Global |
Dengan demikian, kita simpulkan topik no.6 ini presepsi bahwa terjadinya gerhana adalah bukti bahwa Bumi bola dan mengelilingi Matahari adalah salah besar. Bukti:
1. NASA terbukti menggunakan siklus saros dan bukan menggnakan perhitungan menggunakan angka-angka fiktif tersebut
2. NASA mempropagandakan animasi terjadinya gerhana tanpa perhitungan dan skala agar seolah gerhana terjadi akibat pergerakab orbit Bumi dan Bulan untuk mengelabuhi umat Manusia seduia.
3. Ketiddakmampuan NASA memprediksi gerhana dengan angka-angka fiktif dan dogma tersebut membuktikan bahwa angka-angka itu sebenarnya Salah! Akhirnya angka turunannya yaitu perhitungan alam semesta menurut Sains Modern adalah penyesatan, Tuhan palsu, yang didesain sistematis untuk menjauhkan Manusia dari Agama dan ketuhanan melalui kebohongan Sains Modern.
_________________________________________________________________________________
![]() |
| Foto Bumi |
Kita sejak kecil diajarkan bahawa fenomena kapal menghilang di horizon adalahmembuktikan bahwa Bumi lengkung. Dikatakan bahwa kapal yang berada jauh hanya terlihat atasnya, karena bagian bawahnya terhalang lengkungan Bumi. Padahal, jika kita menggunakan teropong/kamera yang memiliki zoom dan kualitas yang tinggi, kapal itu akan terihat utuh kembali. Buktikan! Kita harus membiasakan diri, untuk memiliki data dan fakta yang kredibel. Jangan sekali-kali berdebat tanpa data, hana mengandalkan opini sendiri-sendiri. Bisa dibilang 90% data yang ada di Google adalah opini-opini dan presepsi-presepsi tanpa data yang jelas.
Ada banyak perdebadan yang hanya mengandalkan foto tanpa data. Kalau melihat foto Bumi yang harus diingat adalah 2 hal, yaitu: fish eye lens atau CGI rekayasa komputer. Fish eye lens membuat semua foto tampak lengkung, hal ini memang digunakan untuk wide angel apalagi kalu kameranya kecil. Hal ke-2 adalah CGI atau rekayasa komputer, tak semua orang bisa membedakan foto asli dengan CGI.
Orang sering bicara soal horizon dan lengkungannya tanpa tahu angkanya, jadinya jadi debad kusir yang tak bermutu.
![]() |
| Bedford Experiment |
![]() |
| Lase Experiment |
![]() |
| Prespektif |
Tonton dan buktikan!
![]() |
| Perbandingan |
Karena kurangnya pemahaman, banyak yang bilang bahwa, kalu Buminya datar Matahari tak pernah terbenam.Ini jelas salah! Matahari terlihat terbenam karena prespektif bukan karena lengkung. Fakta uang leih menarik adalah, Matahri tampak lebih besar ketika direkam diketinggian daripada di permukaan tanah.Jika benar Matahari berada di jarak 150 juta KM, tidak akan ada pengaruhnya jika dilihat dari jarak yang berbeda beberapa KM saja. Fenomena ini malah menunjukan sebaliknya, diketinggian Matahari tampak lebih besar. Hal ini tidak akan terjadi apabila Matahari berjalan pada ketinggian 15o juta KM. Ketika Matahari terbenam, terlihat sianrnya mengikuti hilangnya prespektif Matahari. Ini menandakan Matahri bersifat loka, kalau jaraknya 150 juta KM sinarnya tidak aakan hilang seperti itu, tapi rata diseluruh horizon Bumi. Kita bandingkan dengan lampu-lampu kota, sama persis, kedua sinar itu bersifat lokal.
_________________________________________________________________________________
Hal lain terkait horizon dan prespektif adalah fenomena pelangi. Terjadinya hal itu memang dapat dijelaskan dengan mudah melalui refraksi prisma atau jalan air. Tetapi tetap saja bentuknya lurus, tak ada penjelasan yang memuaskan mengenai "mengapa pelangi bentuknya lengkung".
Silahkan kalian cek berbagai refrensi sains, salah satunya adalah proffesor Walter Lewin yang sudah puluhan tahun mengamati fenomena pelangi. Dia sangat bagus dalam menjelaskan bagaimana refraksi cahaya yang melengkung melalui air hujan diketinggian. Tetapi tetap tak ada penjelasan yang memuaskan tentang engkungnya pelangi.
Fenomena pelangi juga berkaitan dengan feomena Halo yang biasa terlihat disekitar Matahari. Alam semesta adalh misteri, yang berasal dari kecerdasan ilahi, yang tak semua bisa dijelaskan oleh keterbatasan intelngcy Manusia. Upaya untuk memahami maslah ini adalh esensi dari sains yang sesungguhnya, Mebuah eksplorasi kehidupan yang sungguh mengasyikan, menjadi masalah jika kita berlaku seolah sudah tahu segalanya. Arogansi sains, arogansi intelketual, padaahal sains tak pernah bisa menjelaskan bagaimana dan darimana kecerdasan anda berasal.
Fenomena lainnya yang tak pernha bisa dijelaskan, antara lain: Matahari ganda yang kadang terjadi entah apa sebabnya. Ini adalh nyata bukan hoax. Jika kita tidak tahu, bilang kita tidak tahu dan kta akan melakukan riset dan eksplorasi untuk memahaminya. Demikian hanya pula dengan pelangi dan helo, apa yang membuat pelangi melengkung? Apa yang membuat halo? satu hal yang pasti, kita bisa membuat pelangi sendiri dengan bidang air yang benar-benar melengkung. Kalangan flat earth memandang fenomena pelang dan halo sebagai refreksi dari kubah slestial atau Firmament dalam Injil dan langiit tujuh lapis dalam Al-Qur'an. Dengan begitu kita tutup topik ke-Tujuh yang membahas mengenai horizon yang awalnya membuat kita percaya bahwa Bumi berbentuk bulat.
-SERI 4-
Sumber: Video Flat Earth 101 Channel oleh Bossdarling














Tidak ada komentar:
Posting Komentar